Aku
menghabiskan masa liburanku tidak seperti biasanya. Ya, aku berlibur
di rumah sakit. Sebelum aku bercerita tenang bagaimana liburanku, aku
akan sedikit menceritakan mengapa aku bisa masuk ke rumah sakit
selama liburan. Aku sudah menderita sakit dari tahun 2017. Rasa sakit
yang kurasakan itu masih bisa kutahan. Di tahun 2018, aku sudah mulai
merasakan sakit yang luar biasa. Seharusnya di tahun tersebut aku
mulai melakukan penanganan lebih lanjut. Namun, aku terus menahan
rasa sakitku.
Di
tahun 2019, aku berencana untuk melakukan operasi di bulan Juni,
namun gagal karena aku punya kesibukan dan tanggung jawab. Akhirnya
aku memutuskan untuk melakukan operasi di bulan Desember saat
liburan. Operasi dilakukan saat subuh. Sehari sebelum operasi, aku
sudah puasa dan menginap di rumah sakit. Subuh, perawat datang ke
kamarku dan memasangkan infus di tanganku. Aku dibawa ke ruang
operasi pagi itu.
Dingin
dan sangat terang, begitulah kondisi ruang operasi. Ruang operasi
berbau seperti cairan anti septik. Terlihat sangat steril dan bersih.
Aku ditidurkan di sebuah bangsal berukuran pas untuk satu orang.
Perawat mulai memasangkan alat-alat seperti alat tensi, alat detak
jantung dan oksigen. Beberapa saat setelahnya, dokter anastesi datang
dan memberikan anastesi lokal. Anastesi lokal ini melumpuhkan
sebagian syaraf tubuhku dalam waktu 3 – 4 menit setelah
disuntikkan. 15 menit kemudian operasi dimulai.
Dokter
dan perawat dengan segala peralatan operasi dengan sangat jelas
terlihat oleh kedua mataku. Mereka mengobrol sambil mengoperasi
tubuhku. Aku hanya diam dan kedinginan. Aku menunggu tubuhku
dioperasi kurang lebih sekitar 45 menit. Aku bisa melihat perawat
membawa alat jahit untuk menutup lukaku. Tubuhku mulai dijahit. 5
menit kemudian, seorang perawat menepuk bahuku dan berkata bahwa
operasi sudah selesai dan berjalan lancar. Peralatan yang tadinya
dipasang ke tubuhku mulai dilepas satu persatu. Hanya infus yang
masih terpasang di tanganku.
Aku
kembali ke kamarku, masih belum merasakan rasa sakit sama sekali. Aku
masih merasa biasa saja karena ada efek anastesi di tubuhku. 4 jam
setelah operasi, tepatnya pukul 11.00 pagi, anastesi mulai hilang dan
aku merasakan rasa sakit yang luar biasa. Tubuh yang dijahit mulai
terasa nyeri dan sakit yang sangat hebat, dan belum pernah kurasakan
sebelumnya. Aku hanya menangis seharian.
Sore
hari, banyak teman-temanku yang datang mengunjungi, namun aku tidak
bisa menyapa mereka dengan baik karena aku merasakan kesakitan yang
luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar