Minggu, 19 Januari 2020

Liburanku



Aku menghabiskan masa liburanku tidak seperti biasanya. Ya, aku berlibur di rumah sakit. Sebelum aku bercerita tenang bagaimana liburanku, aku akan sedikit menceritakan mengapa aku bisa masuk ke rumah sakit selama liburan. Aku sudah menderita sakit dari tahun 2017. Rasa sakit yang kurasakan itu masih bisa kutahan. Di tahun 2018, aku sudah mulai merasakan sakit yang luar biasa. Seharusnya di tahun tersebut aku mulai melakukan penanganan lebih lanjut. Namun, aku terus menahan rasa sakitku.

Di tahun 2019, aku berencana untuk melakukan operasi di bulan Juni, namun gagal karena aku punya kesibukan dan tanggung jawab. Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan operasi di bulan Desember saat liburan. Operasi dilakukan saat subuh. Sehari sebelum operasi, aku sudah puasa dan menginap di rumah sakit. Subuh, perawat datang ke kamarku dan memasangkan infus di tanganku. Aku dibawa ke ruang operasi pagi itu.

Dingin dan sangat terang, begitulah kondisi ruang operasi. Ruang operasi berbau seperti cairan anti septik. Terlihat sangat steril dan bersih. Aku ditidurkan di sebuah bangsal berukuran pas untuk satu orang. Perawat mulai memasangkan alat-alat seperti alat tensi, alat detak jantung dan oksigen. Beberapa saat setelahnya, dokter anastesi datang dan memberikan anastesi lokal. Anastesi lokal ini melumpuhkan sebagian syaraf tubuhku dalam waktu 3 – 4 menit setelah disuntikkan. 15 menit kemudian operasi dimulai.

Dokter dan perawat dengan segala peralatan operasi dengan sangat jelas terlihat oleh kedua mataku. Mereka mengobrol sambil mengoperasi tubuhku. Aku hanya diam dan kedinginan. Aku menunggu tubuhku dioperasi kurang lebih sekitar 45 menit. Aku bisa melihat perawat membawa alat jahit untuk menutup lukaku. Tubuhku mulai dijahit. 5 menit kemudian, seorang perawat menepuk bahuku dan berkata bahwa operasi sudah selesai dan berjalan lancar. Peralatan yang tadinya dipasang ke tubuhku mulai dilepas satu persatu. Hanya infus yang masih terpasang di tanganku.

Aku kembali ke kamarku, masih belum merasakan rasa sakit sama sekali. Aku masih merasa biasa saja karena ada efek anastesi di tubuhku. 4 jam setelah operasi, tepatnya pukul 11.00 pagi, anastesi mulai hilang dan aku merasakan rasa sakit yang luar biasa. Tubuh yang dijahit mulai terasa nyeri dan sakit yang sangat hebat, dan belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku hanya menangis seharian.

Sore hari, banyak teman-temanku yang datang mengunjungi, namun aku tidak bisa menyapa mereka dengan baik karena aku merasakan kesakitan yang luar biasa.